PENGUMPULAN DATA dan
KUTIPAN
MAKALAH
Dosen
Pengampu: Eva Ardiana Indrariani

Disusun oleh:
Eka
Hastuti Kurniawati 123211010
PENDIDIKAN BAHASA ARAB
FAKULTAS
ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
TAHUN
2013
PENGUMPULAN DATA dan
KUTIPAN
- PENDAHULUAN
Ilmu lahir karena rasa keingintahuan seseorang
terhadap suatu masalah yang memerlukan pemecahan. Permasalahan dapat dipecahkan
melalui penggalian data atau informasi yang menunjang. Informasi dapat
diperoleh dengan melaksanakan tinjauan kepustakaan.
Selain
menggunakan tinjauan kepustakaan, seorang insan intelektual dapat
melakukan suatu penelitian, baik berupa laporan karya ilmiah, penelitian
tindakan kelas dan bentuk penelitian yang lainnya.
Dalam melaksanakan pembuatan karya ilmiah, seorang
penulis dituntut untuk memaparkan teori – teori yang relevan serta dapat
menunjukkan data – data yang menunjang penelitian tersebut. Tidak dapat
dihindari seorang penulis mengambil kutipan sumber – sumber primer untuk penelitiannya
sendiri dari peneliti lain yang terlebih dahulu melakukan penelitian. Selain
itu, seorang penulis akan melaksanakan pengambilan data yang dipergunakan untuk
memperkuat penelitiannya dan menguji hipotesa yang telah ditentukan.
Makalah ini bertujuan untuk mengetahui cara mengutip
yang benar dalam tugas makalah atu sebuah karangan serta untuk mengetahui
metode pengumpulan data secara tepat.
Pada makalah ini akan dibahas mengenai tata cara
pengutipan sesuai kaidah yang berlaku dan bagaimana seorang penulis melakukan
pengumpulan data di lapangan.
- RUMUSAN
MASALAH
1.
Apa yang
dinamakan kutipan dan apa saja jenis kutipan?
2.
Apa yang
dimaksud teknik pengumpulan data dan apa saja macam – macam teknik pengumpulan
data?
III.
PEMBAHASAN
A.
Pengumpulan
Data
Semua
bahan yang dikumpulkan untuk memperkuat argumentasi dan laporan karya ilmiah
disebut data atau informasi. Selain melaksanakan kajian pustaka untuk dijadikan
landasan teori, seorang penulis diharapkan mampu untuk melampirkan data – data
faktual untuk mendukung penelitiannya dan memperkuat karya ilmiah.
Esensi
pengumpulan data merupakan suatu kegiatan operasional agar tindakan penulis
tergolong pada penelitian yang sebenarnya. Ada bermacam – macam cara yang dapat
digunakan untuk mengumpulkan data, dan informasi. Cara – cara tersebut adalah
melaksanakan observasi (pengamatan), wawancara, mengadakan kuesioner (melalui angket)
tes, dan dokumentasi.[1]
1. OBSERVASI
Observasi
adalah pengamatan yang dilakukan secara sengaja, sistematis mengenai fenomena
sosial dengan gejala – gejala psikis untuk kemudian dilakuakan pencatatan.[2]
Pengumpulan
data menggunakan teknik observasi digunakan untuk melihat atau mengamati
perubahan fenomena – fenomena sosial yang tumbuh dan berkembang, kemudian dapat
dilakukan penilaian terhadap perubahan fenomena – fenoma tersebut. Saat
observasi seorang observer diharuskan untuk melihhat objek dan mempunyai
kepekaan mengungkap serta membaca permasalahan dalam moment tertentu dengan
dapat memisahkan antara yang diperlukan dengan yang tidak diperlukan pada saat
pelaksanaan observasi. Kebanyakan observasi yang dilakukan oleh peneliti
bertujuan untuk membandingkan suatu keadaan.[3]
2. WAWANCARA
Wawancara
merupakan salah satu metode pengumpulan data. Wawancara didefinisikan sebagai suatu kegiatan yang dilakukan untuk
mendapatkan informasi secara langsung
dengan mengungkapkan pertanyaan – pertanyaan kepada responden. Dalam wawancara
akan terjadi komunikasi secara lisan dan berhadapan antara interviewer dan
responden. Dalam wawancara, seorang responden dapat berupa orang tunggal atau
lebih dari satu (kelompok). Teknik pengumpulan data melalui wawancara
diisarankan untuk mengambil responden lebih dari satu. Hal tersebut diasumsikan
bahwa informasi yang akan diperoleh penulis akan lebih komplek, lengkap, dan detail.
Hal tersebut diharapkan mampu untuk memberikan sumbangan yang bagus dalam
penelitiannya.
Saat
melaksanakan wawancara seorang penulis harus mempersiapkan beberapa hal sebagai
berikut:
-
Kontrol waktu;
bagi interviewer dapat memperkirakan berapa waktu yang diperlukan untuk
menghadapi satu responden menjawab pertanyaan dengan tuntas dan runtut.
-
Membuat daftar
pertanyaan yang akan diajukan kepada responden. Hal ini dimaksudkan agar interviewer
dapat dengan mudah mendapatkan informasi sesuai materi yang ia perlukan secara
sistematis.
-
Mental;
merupakan bekal utama sorang peneliti ketika melaksanakan wawancara dan dapat
menambah kepercayaan diri. Sorang interviewer harus sadar posisinya
ketika berada di lapangan dapat menerima segala sesuatu yang tidak diduga munculnya.[4]
3. KUESIONER
Kuesioner
atau angket merupakan alat pengumpulan data berupa daftar pertanyaan yang
disusun sedemikian rupa oleh peneliti untuk dijawab responden. Hal tersebut
diharapkan responden dapat memberikan respon terhadap daftar kuesioner. Kuesioner
dapat disebut pula wawancara tertulis.
Jenis
pertanyaan yang akan diajukan dalam kuesioner bisa bersifat terbuka dan
tertutup. Dikatakan terbuka apabila responden diberikan kesempatan untuk
menguraikan jawabannya terhadap pertanyaan yang diajukan dalam kuesioner. Atau
bisa dikatakan seorang penulis tidak mempersiapkan jawaban pada daftar
kuesioner. Sedangkan kuesioner yang bersifat tertutup adalah seorang penulis
telah memberikan jawaban pada daftar kuesioner dan responden tidak
diperbolehkan memberikan alternatif jawaban.[5]
4. TES
Serangkaian
pertanyaan atau latihan yang digunakan untuk mengukur keterampilan pengetahuan,
intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok.
Ada beberaapa macam tes instrument pengumpulan data, antara lain:
-
Tes Kepribadian
-
Tes Prestasi
-
Tes Bakat
-
Tes Intelegensi
-
Tes Sikap
5. DOKUMENTASI
Ditujukan
untuk memperoleh data langsung dari tempat penelitian. Meliputi: buku-buku yang
relevan, peraturan – peraturan, laporan kegiatan, foto, dan film dokumenter.[6]
B.
Pengertian Kutipan
Kutipan adalah pinjaman kalimat atau
pendapat dari seseorang pengarang atau ucapan seseorang yang terkenal, baik
terdapat dalam buku-buku maupun majalah-majalah.[7]
Meskipun kutipan dari pendapat
seseorang ahli itu diperkenankan, bukan berarti bahwa sebuah tulisan harus
terdiri dari kutipan-kutipan. Seorang penulis harus bisa menghindari untuk
tidak menggunakan banyak kutipan, agar karangannya tidak dianggap sebagai suatu
kumpulan dari berbagai macam pendapat. Seorang penulis seharusnya membuat
kerangka karangan serta kesimpulan-kesimpulan yang merupakan pendapat dari
penulis sendiri. Selanjutnya kutipan hanya berfungsi sebagai penguat pendapatnya
tersebut.
Hal – hal yang
perlu diperhatikan dalam mengutip, diantaranya :
a. Penulis mempertimbangkan bahwa kutipan itu
perlu.
b. Penulis bertanggung jawab penuh terhadap
ketepatan dan ketelitian kutipan.
c. Kutipan dapat terkait dengan penemuan teori.
d. Jangan terlalu banyak mempergunakan kutipan
langsung.
e. Penulis mempertimbangkan jenis kutipan dan
kaitannya dengan sumber rujukan.
Kutipan memiliki fungsi tersendiri.
Fungsi dari kutipan adalah sebagai berikut :
a) Menunjukkan kualitas ilmiah yang lebih tinggi dari suatu karangan.
b) Menjadikan karangan lebih akurat.
c) Memudahkan peninjauan kembali penggunaan referensi dalam daftar
pustaka.
d) Sebagai landasan teori
e) Penguat pendapat penulis.
f) Penjelasan suatu uraian.
Jenis-Jenis Kutipan
Menurut jenisnya, kutipan dapat
dibedakan atas kutipan langsung dan kutipan tidak langsung. Kutipan langsung
adalah pendapat seseorang tentang suatu teori kita kutip persis seperti yang
termaktub dalam buku atau tulisan yang memuat pendapat atau teori itu. Cara
penyajian kutipan langsung ada dua yaitu:
a.
Dikeluarkan
dari teks dan diketik dengan spasi rapat (cara ini dilakukan apabila yang
dikutip lebih terdiri dari empat baris atau lebih). Simak contoh no. 1.
b.
Dimasukkan
dalam teks dan ditulis dalam tanda petik (cara ini dilakukan apabila kutipan
itu kurang dari empat baris). Simak contoh no. 2.[8]
Contoh:
1.
………………,
Rakhmat (1996: 54-55) mmemaparkannya sebagai berikut:
Kajian
linguistic untuk mengamati fenomena politik sebetulnya bidang yang patut
mendapat perhatian. Bukan saja bidang ini mempunyai latar belakang teoritis
yang kokoh, tetapi juga hasilnya mengungkapkan hal-hal menarik berkenaan dengan
proses pembentukan wacana politik. Bahasa memang tidak pernah objektif. Bahasa
selalu ideology soaked. Melalui analisis linguistik, budaya politik
suatu bangsa menjadi transparan. Dalam skala makro, penelitian …………………..
(Dari Anang Santoso, Bahasa Politik Pasca Orde Baru,
Jakarta, Wedatama Widya Sastra, 2004: 25)
2.
…………seperti
yang dikatakan Leech (1983: 10-11), “bahwa sosiopragmatik itu adalah satu dari
dua sisi pragmatik, yang sisi lainnya adalah pragmalinguistik. Yang pertama itu
berhubungan dengan sosiologi, dan yang kedua berhubungan dengan tata
bahasa……………..”
(Dari Asim Gunarwan, “ Kesantunan Negatif di Kalangan Dwibahasawan
Indonesia - Jawa di Jakarta” dalam
PELLBA 7, Jakarta: 1994: 83)
Kutipan tidak langsung
adalah pinjaman pendapat seorang pengarang atau tokoh terkenal berupa intisari atau
ikhtisar dari pendapat tersebut.[9]
Beberapa syarat harus diperhatikan untuk membuat kutipan tak langsung:
·
Kutipan
itu diintegrasikan dengan teks
·
Jarak
antar baris dua spasi
·
Kutipan
tidak diapit dengan tanda kutip
·
Sesudah
kutipan selesai diberi catatan kaki, atau dalam kurung ditempatkan nama singkat
pengarang, tahun terbit, dan nomor halaman tempat terdapat kutipan itu.
Contoh:
Pertama-tama harus
dibedakan dahulu antara kata ‘aksen’ dan tekanan. Dalam tata istilah ilmu
bahasa ‘aksen’ tidak sama dengan ‘tekanan’. Aksen lebih luas maknanya daripada
tekanan. Tata aksen dalam suatu bahasa memperbedakan suku-suku kata yang sama
bentuk fonemik-segmentalnya dengan jalan titi nada, kontur lagu, jangka bunyi
dan tekanan. Dengan perkataan lain, tekanan itu hanya satu bagian dari aksen,
di samping unsur titi nada, kontur dan jangka. (Hockett: 1955: 33-35; 43-66)
IV.
PENUTUP
1.
Simpulan
Kutipan adalah
pinjaman kalimat atau pendapat dari seorang pengarang, atau ucapan seseorang
yang terkenal, baik terdapat dalam buku ataupun majalah. Kutipan dibagi menjadi
dua, yaitu kutipan langsung dan kutipan tak langsung.
Pengumpulan data
merupakan suatu kegiatan operasional agar tindakan penulis tergolong pada
penelitian yang sebenarnya. Pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh
informasi yang valid. Selain itu pengumpulan data dilakukan untuk memperkuat
suatu karya ilmiah sekaligus menguji kebenaran suatu hipotesa. Pengumpulan data
terdiri dari: wawancara, observasi, kuesioner, tes, dan dokumentasi.
2.
Saran
a. Mahasiswa
sebaiknya lebih memperhatikan penulisan kutipan dalam tugas makalah atau
karangan yang lain.
b. Dalam
mengumpulkan data untuk tugas sebaiknya lebih memperhatikan metode yang
digunakan agar lebih akurat.
c. Sebagai
balas budi penulis terhadap pengarang atas teori atau kalimat yang diambil
penulis karena teorinya dimuat pada karya tulisnya.
[1]
Gorys Keraf, Komposisi
Sebagai Pengantar Kemahiran Bahasa (Flores: Nusa Indah, 2004), hlm 181 -
182
[2] Ronny Hanitijo
Soemitro, Metodologi Penelitian Hukum, )Jakarta: Ghalia Indonesia,
1985, Cet. II( hal 62
[3] Joko Subagyo, S. H., Op. cit., hlm, 62 - 63
[4] Joko Subagyo, Metode
Penelitian (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), hlm 39 - 41
[5] Bisri Mustofa,
Tin Tisnawati Teknik Menulis karya Ilmiah Menghadapi Sertifikasi
(Semarang: Ghyyas Putra, 2009), hlm 34 – 36.
[6] Riduwan, Skala Pengukuran Variabel – Variabel
Penelitian (Bandung: Alfa Beta, 2009), hlm
30 – 31.
[7] Gorys Keraf, Komposisi,
(Semarang: Bina Putera, 2004), hlm: 202.
[8]
Abdul Chaer, Ragam
Bahasa Ilmiah, (Jakarta, Rineka Cipta, 2011), hlm: 189.
0 komentar:
Posting Komentar