Pages

Sabtu, 17 Oktober 2015

balaghah AL AMR (PERINTAH)

AL AMR (PERINTAH)
MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Balaghah
Dosen Pengampu: Mahfudz Shiddiq Lc, MA

Logo-IAIN-Walisongo-Semarang
         
Disusun oleh:
Eka Hastuti Kurniawati                      123211010












PENDIDIKAN BAHASA ARAB
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG

AL AMR (PERINTAH)
I.     PENDAHULUAN
Ilmu ma’ani merupakan suatu kajian ilmu balaghoh yang membahas mengenai dasar-dasar dan kaidah-kaidah yang menjelaskan pola kalimat bahasa Arab agar bisa disesuaikan dengan kondisi dan tujuan yang dikehendaki penutur. Dimana tujuan ilmu ma’ani ini adalah menghindari kesalahan dalam pemaknaan ynag dikehendaki pembicara yang disampaikan kepada lawan bicara. Dan salah satu bahasan dari ilmu ma’ani adalah Amr.

II.  RUMUSAN MASALAH
A.    Apa pengertian al-amr?
B.     Bagaimana bentuk al-amr?
C.     Bagaimana ma’na al-amr?

III.   PEMBAHASAN
a.     Pengertian
Amr adalah menuntut dilaksanakannya suatu pekerjaan oleh pihak yang lebih tinggi kepada pihak yang lebih rendah.[1] Amr merupakan salah satu kalam insya’i.
b.     Shighat Amr
Adapun Shighat Amr itu ada empat, secara rinicinya ialah sebagai berikut[2] :
1.     Fi’il Amr, semua kata kerja yang ber-shighat fi’il amr termasuk kalam insya’ thalabi. Contoh fi’il Amr ialah sebagai berikut:
“Dirikanlah shalat” (QS. An-Nur : 56)

2.     Fi’il Mudhari’, yang diiringi dengan lam amr. Contohnya ialah sebagai berikut:
لينفق ذو سعة من سعته (الطلاق : 7)
Artinya : “Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. (QS. At-Thalaq : 7).
3.     Isim Amr, Kata isim yang bermakna fi’il amr (kata kerja) termasuk shigot yang membentuk kalam insyai thalabi. Contoh:
حي على الصلاة حي على الفلاح
Artinya: “Mari melaksanakan sholat! Mari menuju kebahagiaan!”
Kata حي yang memiliki arti “mari”, dalam kalimat di atas adalah sebuah kata yang berbentuk isim  tetapi mengandung makna amr, sehingga disebut isim fi’il amr.
4.     Mashdar pengganti fi’il, Mashdar yang posisinya berfungsi sebagai pengganti fi’il yang dibuang bisa juga bermakna amr. Contoh:
سعبا فى الخير
Artinya: “Berusahalah pada hal-hal yang baik.”
وبالوالدين إحسانا
Artinya : “Dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (QS. Al-Isra’ :23).

IV.              
c.      Ma’ani Amr
Dalam konteks tertentu, kalimat perintah ini terkadang menyimpang dari makna asalinya dan menunjukkan makna-makna lain, di antaranya makna doa, iltimas, irsyad, tamanny, ibahah, takhyir dan tahdid.[3]
1.      Makna doa
Ungkapan amr bisa menunjukkan makna doa jika perintah itu berupa permohonan yang datang dari bawah kepada yang di atas. Contohnya permohonan kita kepada Allah agar mengampuni segala dosa dan kesalahan kita:
“Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami” (QS. Ali-‘Imran [3]: 193)
2.      Makna Iltimas
Ungkapan amr bisa juga menunjukkan makna iltimas, yaitu perintah itu berasal dari pihak yang sederajat. Contoh, permintaan seseorang kepada teman sejawatnya utuk membawakan secangkir kopi:
 “Sahabatku! Ambillah secangkir kopi untukku.”
3.      Makna Irsyad
Amr juga bisa menunjukkan makna irsyad atau bimbingan jika perintah tersebut, misalnya: berisi pepatah, nasehat, atau cara-cara untuk melaksanakan sesuatu atau mendapatkan sesuatu. Misalnya nasehat seorang guru kepada muridnya untuk rajin belajar:
 “Jika Anda ingin sukses dalam ujian maka rajinlah belajar.”
4.     Makna Tamanny
Selain itu, ungkapan amr pun dapat menunjukkan makna tamanny, yaitu jika perintah ditujukan kepada sesuatu yang tidak berakal. Contohnya, ungkapan orang yang sedang merindukan kekasihnya:
 “Wahai burung-burung pipit, sampaikanlah salam dan rinduku kepadanya.”
5.     Makna Ibahah
Amr pun terkadang menunjukan makna ibahah, yakni kebolehan (kebebasan) untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu, bukan sebuah kewajiban. Seperti perintah untuk makan dan minum dalam al-Quran:
 “Makan dan minumlah dan janganlah berlebihan.” (QS. Al-A’raf [7]: 31)
6.   Makna Takhyir
Makna lain dariamr adalah makna takhyir atau pilihan. Biasanya, konteks ini muncul jika ada dua perintah yang diajukan untuk dipilih salah satunya, seperti ungkapan”
 “Hidup dalam keadaan mulia atau matilah dalam keadaan syahid.”
7.      Makna Tahdid
Selain makna-makna di atas, amr pun terkadang menunjukkan makna tahdid yaitu perintah yang disertai dengan ancaman. Jika amr diungkapkan dalam konteks ini, maka pada dasarnya menunjukkan “sindiran” atau ketidaksetujuan dari pihak yang member perintah tersebut. Contoh, ungkapan yang ditujukkan kepada orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya”
 “Lakukan apa yang kamu mau, nanti juga kamu akan dibalas.”[4]
V.      KESIMPULAN
Amr adalah menuntut dilaksanakannya suatu pekerjaan oleh pihak yang lebih tinggi kepada pihak yang lebih rendah. Shighat Amr yaitu: fi’il amr, fi’il mudhari’, isim amr, mashdar pengganti fi’il. Sedangkan ma’na amr di antaranya: ma’na doa, iltimas, irsyad, tamanny, ibahah, takhyir, tahdid.

VI.   PENUTUP
Alhamdulillah kami ucapkan kehadirat Allah SWT dengan kekuasaannya dan dengan petunjuknya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Semoga dengan adanya makalah ini kita semua dapat mengetahui dan memahami tentang adanya kalimat amr/perintah agar bisa diterapkan dalam praktik belajar mengajar bahasa arab kelak. Mungkin penyajian makalah ini jauh dari kesempurnaan untuk itu kami mengharap kritik dan saran yang membangun guna kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini juga dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin....


[1] Ali al-Jarim, Terjemahan Al-Balaaghatul Waadhihah, (Bandung: Penerbit Sinar Baru Algensindo, 2011), hlm: 251
[2] Yuyun Wahyudin, Meguasai Balaghah : Cara Cerdas Berbahasa, (Yogyakarta : Nurma Media Idea, 2007) hlm: 95
[3] Yuyun Wahyudin, Meguasai Balaghah : Cara Cerdas Berbahasa, (Yogyakarta : Nurma Media Idea, 2007) hlm: 97
4 Syaikh Ahmad Qolasy. Taisiru Balaghah. (Jeddah: matba’ah tsafar, 1995) hal: 27-28.

DAFTAR PUSTAKA
Yuyun Wahyudin. 2007. Meguasai Balaghah : Cara Cerdas Berbahasa. Yogyakarta : Nurma Media Idea.
Ali al-Jarim. 2011. Terjemahan Al-Balaaghatul Waadhihah. Bandung: Penerbit Sinar Baru Algensindo.
Syaikh Ahmad Qolasy. 1995. Taisiru Balaghah. Jeddah: Matbah Tsafar.


0 komentar: