Pages

Sabtu, 17 Oktober 2015

balaghah AL AMR (PERINTAH)

AL AMR (PERINTAH)
MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Balaghah
Dosen Pengampu: Mahfudz Shiddiq Lc, MA

Logo-IAIN-Walisongo-Semarang
         
Disusun oleh:
Eka Hastuti Kurniawati                      123211010












PENDIDIKAN BAHASA ARAB
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG

AL AMR (PERINTAH)
I.     PENDAHULUAN
Ilmu ma’ani merupakan suatu kajian ilmu balaghoh yang membahas mengenai dasar-dasar dan kaidah-kaidah yang menjelaskan pola kalimat bahasa Arab agar bisa disesuaikan dengan kondisi dan tujuan yang dikehendaki penutur. Dimana tujuan ilmu ma’ani ini adalah menghindari kesalahan dalam pemaknaan ynag dikehendaki pembicara yang disampaikan kepada lawan bicara. Dan salah satu bahasan dari ilmu ma’ani adalah Amr.

II.  RUMUSAN MASALAH
A.    Apa pengertian al-amr?
B.     Bagaimana bentuk al-amr?
C.     Bagaimana ma’na al-amr?

III.   PEMBAHASAN
a.     Pengertian
Amr adalah menuntut dilaksanakannya suatu pekerjaan oleh pihak yang lebih tinggi kepada pihak yang lebih rendah.[1] Amr merupakan salah satu kalam insya’i.
b.     Shighat Amr
Adapun Shighat Amr itu ada empat, secara rinicinya ialah sebagai berikut[2] :
1.     Fi’il Amr, semua kata kerja yang ber-shighat fi’il amr termasuk kalam insya’ thalabi. Contoh fi’il Amr ialah sebagai berikut:
“Dirikanlah shalat” (QS. An-Nur : 56)

2.     Fi’il Mudhari’, yang diiringi dengan lam amr. Contohnya ialah sebagai berikut:
لينفق ذو سعة من سعته (الطلاق : 7)
Artinya : “Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. (QS. At-Thalaq : 7).
3.     Isim Amr, Kata isim yang bermakna fi’il amr (kata kerja) termasuk shigot yang membentuk kalam insyai thalabi. Contoh:
حي على الصلاة حي على الفلاح
Artinya: “Mari melaksanakan sholat! Mari menuju kebahagiaan!”
Kata حي yang memiliki arti “mari”, dalam kalimat di atas adalah sebuah kata yang berbentuk isim  tetapi mengandung makna amr, sehingga disebut isim fi’il amr.
4.     Mashdar pengganti fi’il, Mashdar yang posisinya berfungsi sebagai pengganti fi’il yang dibuang bisa juga bermakna amr. Contoh:
سعبا فى الخير
Artinya: “Berusahalah pada hal-hal yang baik.”
وبالوالدين إحسانا
Artinya : “Dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (QS. Al-Isra’ :23).

IV.              
c.      Ma’ani Amr
Dalam konteks tertentu, kalimat perintah ini terkadang menyimpang dari makna asalinya dan menunjukkan makna-makna lain, di antaranya makna doa, iltimas, irsyad, tamanny, ibahah, takhyir dan tahdid.[3]
1.      Makna doa
Ungkapan amr bisa menunjukkan makna doa jika perintah itu berupa permohonan yang datang dari bawah kepada yang di atas. Contohnya permohonan kita kepada Allah agar mengampuni segala dosa dan kesalahan kita:
“Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami” (QS. Ali-‘Imran [3]: 193)
2.      Makna Iltimas
Ungkapan amr bisa juga menunjukkan makna iltimas, yaitu perintah itu berasal dari pihak yang sederajat. Contoh, permintaan seseorang kepada teman sejawatnya utuk membawakan secangkir kopi:
 “Sahabatku! Ambillah secangkir kopi untukku.”
3.      Makna Irsyad
Amr juga bisa menunjukkan makna irsyad atau bimbingan jika perintah tersebut, misalnya: berisi pepatah, nasehat, atau cara-cara untuk melaksanakan sesuatu atau mendapatkan sesuatu. Misalnya nasehat seorang guru kepada muridnya untuk rajin belajar:
 “Jika Anda ingin sukses dalam ujian maka rajinlah belajar.”
4.     Makna Tamanny
Selain itu, ungkapan amr pun dapat menunjukkan makna tamanny, yaitu jika perintah ditujukan kepada sesuatu yang tidak berakal. Contohnya, ungkapan orang yang sedang merindukan kekasihnya:
 “Wahai burung-burung pipit, sampaikanlah salam dan rinduku kepadanya.”
5.     Makna Ibahah
Amr pun terkadang menunjukan makna ibahah, yakni kebolehan (kebebasan) untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu, bukan sebuah kewajiban. Seperti perintah untuk makan dan minum dalam al-Quran:
 “Makan dan minumlah dan janganlah berlebihan.” (QS. Al-A’raf [7]: 31)
6.   Makna Takhyir
Makna lain dariamr adalah makna takhyir atau pilihan. Biasanya, konteks ini muncul jika ada dua perintah yang diajukan untuk dipilih salah satunya, seperti ungkapan”
 “Hidup dalam keadaan mulia atau matilah dalam keadaan syahid.”
7.      Makna Tahdid
Selain makna-makna di atas, amr pun terkadang menunjukkan makna tahdid yaitu perintah yang disertai dengan ancaman. Jika amr diungkapkan dalam konteks ini, maka pada dasarnya menunjukkan “sindiran” atau ketidaksetujuan dari pihak yang member perintah tersebut. Contoh, ungkapan yang ditujukkan kepada orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya”
 “Lakukan apa yang kamu mau, nanti juga kamu akan dibalas.”[4]
V.      KESIMPULAN
Amr adalah menuntut dilaksanakannya suatu pekerjaan oleh pihak yang lebih tinggi kepada pihak yang lebih rendah. Shighat Amr yaitu: fi’il amr, fi’il mudhari’, isim amr, mashdar pengganti fi’il. Sedangkan ma’na amr di antaranya: ma’na doa, iltimas, irsyad, tamanny, ibahah, takhyir, tahdid.

VI.   PENUTUP
Alhamdulillah kami ucapkan kehadirat Allah SWT dengan kekuasaannya dan dengan petunjuknya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Semoga dengan adanya makalah ini kita semua dapat mengetahui dan memahami tentang adanya kalimat amr/perintah agar bisa diterapkan dalam praktik belajar mengajar bahasa arab kelak. Mungkin penyajian makalah ini jauh dari kesempurnaan untuk itu kami mengharap kritik dan saran yang membangun guna kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini juga dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin....


[1] Ali al-Jarim, Terjemahan Al-Balaaghatul Waadhihah, (Bandung: Penerbit Sinar Baru Algensindo, 2011), hlm: 251
[2] Yuyun Wahyudin, Meguasai Balaghah : Cara Cerdas Berbahasa, (Yogyakarta : Nurma Media Idea, 2007) hlm: 95
[3] Yuyun Wahyudin, Meguasai Balaghah : Cara Cerdas Berbahasa, (Yogyakarta : Nurma Media Idea, 2007) hlm: 97
4 Syaikh Ahmad Qolasy. Taisiru Balaghah. (Jeddah: matba’ah tsafar, 1995) hal: 27-28.

DAFTAR PUSTAKA
Yuyun Wahyudin. 2007. Meguasai Balaghah : Cara Cerdas Berbahasa. Yogyakarta : Nurma Media Idea.
Ali al-Jarim. 2011. Terjemahan Al-Balaaghatul Waadhihah. Bandung: Penerbit Sinar Baru Algensindo.
Syaikh Ahmad Qolasy. 1995. Taisiru Balaghah. Jeddah: Matbah Tsafar.


البَاحِثُ عَنِ الحَقِيْقَةِ

البَاحِثُ عَنِ الحَقِيْقَةِ
الاستفاء بعض المطالبات فى مادة:
اللغة العربية 2 
المحاضرة: الأستاذ حسمي حسونا
 





مقدمة :
إكى هستتتى كرنيوتي 123211010
ألفة النّفيسة 123211015   
فينا رفعة العزيمة 123211073
كلّية التربية
قسم تعليم اللغة العربية
جامعة والي سونجو الإسلامية الحكومية سمارنج
1433-2012
المقالة :                                                                                                
البَاحِثُ عَنِ الحَقِيْقَةِ
تَحَدَّثُ سَلْمَانُ الفَارِسِ عَنْ قِصَّةِ بَحْثِهِ عَنِ الحَقِيْقَةِ وَإِسْلَامِهِ, فَقَالَ كُنْتُ مَجُوْسِيًّا مِنْ أَهْلِ أَصْبَهَانُ, وَكُنْتُ قَاطِنٌ (المُقِيْمُ عِنْدَ) النَارِ الَّتِيْ نُوْقِدُهَا, فَسَأَلْتُ  النَصَارَى  حِيْنَ أَعْجَبَنِيْ  أَمْرَهُمْ, وَصَلَاتَهُمْ عَنْ اَصْلِ دِيْنِهِمْ, فَقَالُوْا: فِى الشَامِ. فَانْطَلَقْتُ إِلَى الشَامِ, وَأَقَمْتُ مَعَ الأُسْقُفِ, صَاحِبُ الكَنِيْسَةِ, أَخْدُمُ, وَأُصَلِّيْ, وَأَتَعَلَّمُ. وَكَانَ هَذَا الأُسْقُفُ رَجُلٌ سُوْءٌ فِيْ دِيْنِهِ, ثُمَّ مَاتَ.وَجَاؤُوْا بِآخَرَ خَيْرًا مِنْهُ, فَلَمَا حَضَرَتْهُ الوَفَاةِ, قُلْتُ لَهُ: إِلَى مَنْ تُوْصِي بِيْ ؟ قَالَ :يَابُنَي, مَا أَعْرَفُ أَحَدًا مِنْ النَاسِ عَلَى تَثِلُ مَاأَنَا عَلَيْهِ, إِلَّا رَجُلًا بِالْمُوَصَّلْ. فَلَمَّا تُوُفِيَ (مَاتَ), أَتَيْتُ صَاحِبَ المُوَصَّلَ, وَاَقَمْتُ مَعَهُ, ثُمَّ  حَضَرَتْهُ الوَفَاةُ, فَسَأَلْتُهُ, فَدَلَّنِيْ عَلَى رَجُلٍ مِنْ عُعُّوْرِيَّةِ, فَرَحَلْتُ (سَافَرْتُ) ِالَيْهِ, وَأَقَمْتُ مَعَهُ, ثُمَّ حَضَرَتْهُ الوَفَاةُ, فَقُلْتُ لَهُ : ِإلَى مَنْ تُوْصِيْ بِيْ؟ فَقَالَ لِيْ : يَابُنَيَّ, مَا أَعْرِفُ أَحَدًا غَلَى مِثْلُ مَا كَنَا عَلَيْهِ آمُرُكَ أَنْ تَأْتِيَهُ, وِلَكِنَّ هَذَا زَمَانُ نَبِيٍّ يُبْعَثُ بِدِيْنِ إِبْرَاهِيْمَ حَنِيْفَا, يُهَاجِرُ إِلَى أَرْضٍ ذَاتَ نَخْلٍ بَيْنَ حَرَّتَيْنِ, فَاذْهَبْ إِلَيْهِ إِنِ اسْتَطَعْتَ. وَإِنَّ لَهُ آيَاتٌ لَا تَخْفَى: فَهُوَ لَايَأْكُلُ الصَدَقَةَ, وَيَقْبَلُ الهَدِيَةَ, وَإِنَّ بَيْنَ كَتِفَيْهِ خَاتَمُ النُبُوَةِ, إِذَا رَأَيْتَهُ عَرَفْتَهُ. وَمَرَّ بِيْ رُكْبٌ,وَذَهَبْتُ مَعَهُمْ حَتَى وَصَلُوْا إِلَى وَادِيْ القُرَى فَظَلَمُوْنِي, وَبَاعُوْنِيْ إِلَى رَجُلٍ مِنْ يَهُوْدٍ, فَبَاعَنِيْ إِلَى رَجُلٍ مِنْ يَهُوْدٍ بَنِيْ قُرَيْظَةِ. ثُمَّ خَرَجَ بِيْ حَتَّى قَدَمْتُ المَدِيْنَةَ, فَوَاللهِ مَا هُوَ إِلَّا أَنْ رَاَيْتُهَا, حَتَّى اَيْقَنْتُ أَنَّهَا البَلْدَةُ الَّتِي وَصَفَتْ لِيْ, وَاَقَمْتُ مَعَهُ أَعْمَلَ لَهُ فِيْ نَخْلِهِ فِى بَنِىْ قُرَيْظَةِ, حَتَّى بَعَثَ اللهُ رَسُوْلَهُ, وَحَتَّى قَدَمَ "المَدِيْنَةَ" وَنَزَلَ بِقُبَاءِ. وَإِنِّى لَفِيْ رَأْسِ نَخْلَةِ يَوْمًا,وَصَاحِبَيْ (سَيِّدِيْ) جَالِسٌ تَحْتَهَا, إِذَ أَقْبَلَ رَجُلٌ مِنْ يَهُوْدِ, مِنْ بَنِى عَمِّهِ, فَقَالَ يُخَاطِبُهَ: قَاتَلَ اللهُ بَنِى قَيْلَةَ (أَمْ الأَوْسْ وَالخَزْرَجْ), إِنَّهُمْ لَيَتَقَاصِفُوْنَ (يَزْدَحِمُوْنَ) عَلَى رَجُلٍ بِقَبَاءٍ, قَادَمَ مِنْ مَكَةَ يَزْعَمُوْنَ أَنَّهُ نَبِي.
فَوَ اللهِ مَا هُوَ إِلَّا أَنَّ قَالَهَا حَتَّى أَخْذَتَنِى رَأْشَةً. فَرَجَفْتُ النَخْلَ, حَتَّى كِدْتُ أَسْقُطُ فَوْقَ صَاحِبِيْ, ثُمَّ نَزَلْتُ سَرِيْعًا, أَقُوْلُ: مَاذَا تَقُوْلُوْنَ؟ مَالخَبَرَ؟فَرَفَعَ سَيِّدِيْ يَدَهُ وَضَرَبَنِيْ,ثُمَّ قَالَ مَالَكَ وَلِهَذَا ؟ أَقْبَلَ عَلَى عَمَلِكِ. فَأَقْبَلْتُ عَلَى عَمَلِيْ, وَلَمَّا اَمْسَيْتُ جَمَعَتُ مَاكَانَ عِنْدِيْ, ثُمَّ خَرَجْتُ حَتَّى جِئْتُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقُبَاءِ, فَدَخَلْتُ عَلَيْهِ, وَمَعَهُ بَعْضَ أَصْحَابِهِ, فَقُلْتُ لَهُ: إِنَّكُمْ أَهْلُ حَاجَةٍ وَغَرَبَةٍ, وَقَدْ كَانَ عِنْدِيْ طَعَامٌ نَذَرْتُهُ لِصَدَقَةٍ,فَلَمَّا ذَكَرَ لِي مَكَانَكُمْ, رَأَيْتُكُمْ أَحَقَّ النَاسِ بِهِ, فَجِئْتُكُمْ بِهِ. ثُمَّ وَضَعُتُهُ, فَقَلَ رَسُوْلُ لِأَصْحَابِهِ: كُلُوْا بِسْمِ اللهِ, وَأَمْسَكَ هُوَ فَلَمْ يَبْسُطْ إِلَيْهِ يَدًا. فَقُلْتُ فِى نَفْسِيْ هَذِهِ وَاللهُ وَاحِدَة, إِنَّهُ لَا يَأْكُلُ الصَدَقَةَ !!ثُمَّ رَجَعْتُ وَعُدْتُ إِلَى الرَسُوْلِ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى الغَدَاةِ, أَحْمِلُ طَعَامَ وَقُلْتُ لَهُ عَلَيْهِ السَلَامَ: إِنِّي رَأَيْتُكَ لَاتَأْكُلُ الصَدَقَةَ. وَقَدْ كَانَ عِنْدِي شَيْءٌ أُحِبُ أَنْ أُكْرِمُكَ بِهِ هَدِيَةً, وَوَضَعْتُهُ بَيْنَ يَدَيْهِ, فَقَالَ لِأَصْحَابِهِ كُلُوْا بِاسْمِ اللهِ, وَأَكُلُ مَعَهُمْ. قُلْتُ لِنَفْسِيْ :هَذِهِ الله الثَانِيَةِ, إِنَّهُ يَأْكُلُ الهَدِيَّةَ!! ثُمَّ رَجَعْتُ فَمَكَثْتُ مَاشَاءَ اللهِ, ثُمَّ أَتَيْتُهُ, فَوَجَدْتُهُ  فِي البَقِيْعِ قَدْ تَبِعَ جَنَازَةً, وَحَوْلَهُ أَصْحَابِهِ, فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ, ثُمَّ عَدَلْتُ لِأَنْظُرُ أَعْلَى  ظَهْرِهِ, فَعَرَفَ أَنِّي أُرِيْدُ ذَالِكَ, فَأَلْقَى بِرِدَائِهِ عَنْ كَاهِلِهِ, فَإِذَا العَلَامَةُ بَيْنَ كَتِفَيْهِ, خَاتَمُ النُبُوَةِ, كَمَا وَصَفَهُ لِي صَاحِبِيْ, فَأَكْبَبْتُ عَلَيْهِ أُقَبِّلُهُ وَأَبْكِيْ, ثُمَّ دَعَانِي-عَلَيْهِ الصَلَاةُ وَالسَلَمَ- فَجَلَسْتُ بَيْنَ يَدَيْهِ, فَحَدَّثَنِي حَدِيْثِي كَمَا أُحَدِّثُكُمْ الآنَ, ثُمَّ أَسْلَمْتُ.


الترجمة :
Pencari Kebenaran
            Salman Al Farisi bercerita tentang kisahnya mencari kebenaran dan keislamannya, dia berkata: saya Majusi dari penduduk Asbahan, dan saya penghuni rumah api yang kita nyalakan. Saya bertanya kepada orang-orang Nasrani ketika saya mengagumi ibadah mereka, shalat mereka, dan asal agama mereka. Maka mereka berkata: di Syaam. Saya pindah ke Syaam dan tinggal bersama Usquf ( pendeta ), penjaga gereja. Saya mengabdi, beribadah, dan belajar. Usquf ini adalah lelaki yang buruk di agamanya. Setelah dia meninggal, mereka mendatangkan usquf yang lain yang lebih baik darinya. Sebelum datang kematiannya, saya berkata kepadanya: kepada siapa anda mewasiatkan saya? Dia berkata: wahai anakku, aku tidak tahu seorangpun dari manusia yang ajarannya seperi aku, kecuali seseorang di daerah Muwashol. Ketika dia meninggal, sayapun mendatangi orang Muawashol tersebut dan kemudian saya tinggal bersamanya. Dan ketika sebelum dia wafat, saya bertanya kepadanya. Dan dia menunjukkan kepada saya seorang ahli ibadah di kota Nasibin, saya mendatanginya dan tinggal bersamanya. Dan ketika kematian mendatanginya, lalu saya bertanya kepadanya. Dia menunjukkan kepada saya pada seseorang di Amuriah. Maka saya pergi kepadanya dan tinggal bersamanya. Sebelum kematian itu datang kepadanya, saya berkata kepadanya: kepada siapa anda mewasiatkan saya? Dan dia berkata kepada saya” wahai anak ku, aku tidak tahu seorangpun yang diisyaratkan seperti yang kita ikuti ajarannya. Saya perintahkan kepadamu untuk datang kepadanya, tetapi ini adalah zaman Nabi yang diutus dengan agama ibrahim yang murni. Dia berhijrah ke tanah yang banyak pohon kurmanya diantara tanah bebatuan maka pergilah kepadanya jika kamu mampu, sesungguhnya dia mempunyai tanda- tanda yng tidak samar atau jelas. Dia tidak makan shadaqah dan menerima hadiah. Sesungguhnya diantara kedua pundaknya terdapat tanda kenabian, jika kamu melihatnya maka kamu akan tahu. Saya pergi dengan rombongan, bersama mereka hingga mereka sampai ke Wadhil qura, dan pada akhirnya mereka mendhalimi saya, mereka menjual saya kepada seorang laki- laki dari kaum yahudi, kemudian dia menjual saya pada kaum yahudi bani Quraidhah. Lalu ia keluar bersamaku hingga ke Madinah. Demi Allah, saya telah melihatnya sehingga saya yakin bahwa itu adalah negri yang dicari- carikan padaku. Kemudian saya tinggal bersamanya, bekeja untuknya dikebun kurma di daerah bani Quraidhah, sampai Allah mengutus Rasulnya, sehingga datang dimadinah dan tinggal di Kuba. Suatu hari saya berada di puncak pohon kurma, dan majikanku duduk dibawahnya. Sampai ia menemui seorang laki- laki dari kaum yahudi dari ‘ammi, maka laki- laki itu berkata padanya dan menjelaskan: Allah akan membunuh bani Qailah ( suku Aus dan Khazraj ) sesungguhnya mereka mereka mengerumuni seorang laki- laki di Kuba yang datang dari Makkah dan mereka mempercayai bahwa ia adalah seorang nabi.
 Demi Allah, tidak ada nabi yang menyampaikan risalah sampai memberikanku petunjuk , sehingga saya hampir terjatuh diatas majikan saya. Kemudian  saya turun dengan cepat, saya berkata: apa yang kalian bicarakan? Ada kabar apa? Kemudian majikanku mengangkat tangannya dan memukul saya, kemudian berkata: apa urusanmu tentang ini? Teruskan pekerjaanmu! Kemudian sayapun meneruskan pekerjaan saya. Dan ketika sore saya mengumpulkan apa yang saya punya, kemudian saya keluar sampai saya mendatangi Rasulullah saw di Kuba, lalu saya masuk dan menemuinya. Ketika itu beliau bersama sebagian sahabat- sahabatnya. Maka saya berkata kepadanya: sesungguhnya engkau adalah orang yang membutuhkan dan datang dari jauh. dan saya mempunyai makanan yang saya niatkan untuk shadaqah. Dan ketika saya disebutkan kepada saya tempatmu. Saya melihat bahwa anda orang yang paling berhak atasnya, maka saya mendatangimu dengan makanan ini. Kemudian saya menahruhnya dan Rasul berkata kepada sahabat- sahabatnya: makanlah dengan nama Allah, beliau memegangnya tetapi yidak membuka tangannya. dan saya berkata pada diri saya sendiri. Demi Allah ini adalah tanda tanda yang pertama, sesungguhnya ia tidak makan shadaqah. Kemudian saya pulang dan saya kembali pada Rasul besoknya. Saya membawa makanan dan berkata kepada Rasulullah saw, sesungguhnya saya melihatmu tidak memakan shadaqah dan saya mempunyai sesuatu dan ingin menghormatimu dengannya sebagai hadiah. Kemudian saya meletakkan didepannya. Dan beliu berkata pada sabat-sahabatnya: makanlah dengan nama Allah dan dan beliau makan bersama mereka. Saya berkata pada diri saya sendiri. Demi Allah ini adalah tandanya yang ke dua, sesungguhnya beliau memakan hadiah. Kemudian saya pulang dan saya tinggal dengan izin Allah kemudian saya mendatanginya dan saya menemuinya di pemakaman Baqi, yang mengantarkan jenazah dan disekitarnya sahabat-sahabatnya. Maka saya mengucapkan salam padanya kemudian saya berusaha untuk melihat keatas punggungnya dan ia mengetahui bahwa saya menginginkan hal itu, kemudian saya membuka surbannya dan saya menemukan ada tanda diantara dua pundaknya yaitu tanda kenabian seperti yang dici-cirikan kepada saya oleh sahabat saya, saya terharu kemudian saya memeluknya dan menangis. Lalu Rasulullah saw mendoakan saya dan sayapun duduk didepannya. Saya menceritakan kisah saya seperti saya menceritakan kepadamu sekarang. Kemudian saya masuk islam. 

مسرد  المفردات  :
أهل  أصبهان        =  penduduk ashbihan
وادي القرى           =kota wadil qura
الغداة                = besok
صاحب  الموصل    =orang muwashol
نزل بقباء            =tinggal di quba
البقيع                =nama makam ( makam tertua di Madinah)
خاتم النبوة           =tandnda-tanda kenabian
رجفت النخلة         =turun dengan tergesa-gesa
الإستعاب والفهم :
  عد العبارة التالية إلى القراءة الباحثة في الحقيقة!
1.   صاحب الكنيسة هو الأسقف او الإنسان الّذي يخدم فى الكنيسة
2.   كان مجوسيا من أهل أصبهاد لآسنة
3.   الحديث والصلاة والسلام كانت هذه الثلاثة
4.   المجمس الهودي الحصار  والأسمي
5.   ثلاثة  أشياء  كان يقوم سلمان فى الشام

القواعد:
البناء و المجهول
فى جملة فعلية يذكر(فعل+فاعل+مفعول به) المثال: قَرَأَ مُحَمَّدٌ الكِتَابَ, ولكن اذا حدفنا الفاعل تصبح الجملة (الفعل+...+المفعول به)ا لمثال:قَرَأَ....الكِتاَبَ. نستطيع جعل الجملة تامة ببناء الفعل للمجول,اي فاعل غير معلوم, عندما تغير المفعول به ال نائب الفاعل,اي اسم الذي ينوب عن الفاعل المحذوف او يقوم مقامه,وتصبح الجملة= الفعل المبني للمجول+ نائب الفاعل, المثال: قُرِأَ الكِتَابُ

تمرين : عين الأفعال التالية للمجهول وغير مايلزم:
مثل- (1) قال عباس شعرا (قِيْل شعرٌ)  (2) قرأ أخي الإعلانات (قُرِأَتْ الإِعْلاَنَاتُ)
1.   أكل ناظم تفَاحتين : أُكِلَتْ تُفَاحَتَيْنِ
2.   يريدُ الفلسطينيُ الحقوقَ الضائعةَ : يُرَادُ الحُقُوْقُ الضَائِعَةُ

3.   يشرب روَّاد المِقَاهي المشروبات الباردة : تُشْرَبُ المَشْرُوْبَاتِ البَارَدَةُ